Senin, 05 April 2010

Siswa Sekolah Dasar Mahir Membuat Robot


Liputan6.com, Ponorogo: Berkreasi dengan barang bekas bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai. Salah satunya hasil karya yang diciptakan para siswa di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Qurrota Ayun, Kelurahan Nologaten, Ponorogo, Jawa Timur. Mereka membuat robot dari bahan stik es krim.

Meski terbuat dari stik es krim dan barang bekas lainnya, namun robot-robot tersebut cukup memiliki kemampuan yang luar biasa. Robot dibagi dalam dua kategori, yaitu sumo dan ketapel. Robot sumo merupakan robot aduan, sementara robot ketapel memiliki kemampuan melempar beban terjauh.

Tidak kurang dari 40 peserta ambil bagian dalam ajang cipta robot tersebut. Mereka merangkai lalu memamerkan keahlian robotnya. Tak ketinggalan murid perempuan pun ikut dalam kontes ini. Kontes ini sendiri digelar untuk melatih keterampilan anak didik. Selain itu sebagai ajang perkenalan teknologi pada anak usia dini.(OMI/AYB)

Seorang TKW Sepuluh Tahun Menghilang

Liputan6.com, Sukabumi: Seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Kampung Lebaksiuh, Desa Sukamaju, Kecamatan Kadudampit, Sukabumi, Jawa Barat, Beti Sri Wahyuni (29), dikabarkan menghilang selama 10 tahun saat bekerja di Arab Saudi. Sejak keberangkatan Beti pada 1999 melalui perusahaan jasa tenaga kerja PT Arsina Adiyanti Utama, di Jakarta, hingga kini pihak keluarga belum pernah mendengar kabarnya.

Pihak keluarga hanya mengetahui putri keempat dari pasangan Aceng dan Sukinah itu ditempatkan di Arab Saudi sebagai pembantu rumah tangga. Salah seorang kuasa hukum keluarga Beti, Dedi Fatius, Ahad (4/4), mengatakan bahwa sejak bekerja di Arab Saudi pihak keluarga tidak pernah mendapatkan kabar apa pun dari Beti selama 10 tahun terakhir.

Menurut dia, upaya pencarian telah dilakukan oleh pihak keluarga. Salah satunya melalui perusahaan yang telah memberangkatkan Beti, yakni PT Arsina Adiyanti Utama. Namun, tak juga membuahkan hasil. "Pihak keluarga pun telah melaporkan masalah ini kepada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sukabumi, tetapi juga tidak ada hasilnya," ucapnya.

Sementara itu Serikat Buruh Migran Indonesia Cabang Sukabumi mencatat sejak 2004 hingga 2006 terdapat 725 kasus TKW asal Sukabumi yang hilang kontak atau tidak jelas keberadaannya. Persentasenya mencapai 62,5 persen dari jumlah TKW asal Sukabumi sebanyak 1.159 orang. "Namun, memasuki 2010 ini, hampir 70 persen di antaranya telah kembali ke Tanah Air," kata Ketua SBMI Sukabumi, Jejen Nurjanah.(ADO/Ant)

Sepupu Presiden SBY Tetap Gandeng Jupe


Liputan6.com, Pacitan: Sepupu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Nurcahyono, menegaskan dirinya akan tetap maju dalam pemilihan kepala daerah Pacitan, Jawa Timur. Kendati belum mendapat restu keluarga, dia tetap akan maju bersama artis Ibu Kota Julia Perez alias Jupe. "Saya akan menghadap Bapak Presiden, jika pencalonan saya melalui Koalisi Ampera sudah positif. Saat ini prosesnya masih sebatas penjaringan," katanya di Pacitan, Ahad (4/4).

Menurut ia, munculnya penolakan dari sebagian anggota keluarga sebagai sebuah kesalahpahaman. Demikian pula terkait calon pendampingnya yang selama ini dikenal sebagai artis "panas". "Keluarga kami mengutamakan demokrasi. Jadi, kami diberi kebebasan untuk menentukan hak masing-masing. Yang penting tujuannya baik, yakni untuk membangun bangsa dan negara ini, khususnya di Kabupaten Pacitan," kata Nurcahyono.

Terkait pencatutan nama Presiden SBY, Nurcahyono mengatakan dirinya sama sekali tidak ada niat untuk menjual nama Presiden. Dia berdalih penyebutan embel-embel "SBY" merupakan inisiatif pekerja media.

Mantan Kepala Desa Pagotan, Kecamatan Arjosari itu mengungkapkan latar belakangnya sebagai anggota keluarga Presiden Yudhoyono. "Saya merupakan putra kelima dari delapan bersaudara. Ibu saya, Siti Ngaini, merupakan adik kandung dari ayahanda Presiden SBY, Letnan Satu (Purn) TNI Soekotjo," katanya.

Sementara itu, salah satu paman Presiden Yudhoyono, Sudjono, menegaskan apa yang dilakukan Nurcahyono sudah melanggar etika keluarga, kendati tidak mempersoalkan rencananya maju dalam Pilkada Pacitan pada 22 Desember 2010.

Sudjono hanya mengingatkan agar kebebasan dalam menentukan sikap politik yang berlaku dalam keluarga mereka, tidak lantas disalahgunakan. "Tidak perlu membawa-bawa nama SBY. Kami atas nama keluarga sangat keberatan. Apalagi saudara Nurcahyono tidak pernah rembukan dulu dengan keluarga," katanya.(ADO/Ant)