Minggu, 30 Mei 2010

Kaskus Tembus 1000 Situs Teratas Versi Google


VIVAnews - Forum komunitas online terbesar di Indonesia, Kaskus berhasil masuk dalam daftar 1000 situs teratas versi Google.

Berdasarkan data Google AdPlanner untuk April 2010, Kaskus menduduki peringkat 755 dari 1000 situs terpopuler di dunia. Kaskus mendulang 5,1 juta pengunjung unik dan 170 juta page view.

Jumlah pengunjung unik Kaskus sama dengan jumlah pengunjung situs jejaring sosial Bebo (peringkat 747) dan situs NationalGeographic.com (752). Hanya saja page view Kaskus masih di bawah Bebo (1,9 miliar page view) dan National Geographic (96 juta).

Yang patut membuat Kaskuser (pengguna loyal Kaskus) bangga, peringkat Kaskus berada jauh di atas beberapa situs ternama. Mulai dari situs teknologi Techcrunch (850), ZDnet (853), layanan pesan instan dan email Meebo (863), aplikasi foto untuk Twitter Tweetphoto (883), dan situs berita bisnis Bloomberg (884).

Kaskus adalah situs forum internet yang didirikan oleh tiga mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat: Andrew Darwis, Ronald Stephanus, dan Budi Dharmawan pada 1999. Awalnya situs ini didirikan sebagai medium pelepas rasa kangen para mahasiswa Indonesia di luar negeri.

Belakangan, situs ini berkembang menjadi komunitas online terbesar di Indonesia, dengan jumlah pageviews yang diklaim Kaskus mencapai 15 juta per hari. Lebih dari 140 juta post dibuat di forum ini.

Belum lama ini Kaskus juga meluncurkan layanan baru, yakni sistem pembayaran online KasPay, dan radio internet KaskusRadio. Selain Kaskus, situs Indonesia yang berhasil menembus daftar 1000 situs teratas adalah Kompas, yang menduduki peringkat 956.

Data Google AdPlanner sendiri disediakan oleh Double Click, sebuah perusahaan penyedia data untuk keperluan pengiklan internet yang belum lama ini diakuisisi oleh Google. Namun daftar yang dilansir oleh Double Click tidak menyertakan peringkat Google serta layanan Google lain seperti YouTube dan Gmail. (umi)

Cara Malaysia Wacanakan Pangkas Subsidi BBM


VIVAnews - Pemerintah tengah sibuk menyiapkan pembatasan konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi, yakni solar dan premium.

Opsi itu antara lain larangan pemakaian premium dan solar bagi mobil pribadi, pengaturan berdasarkan usia kendaraan hingga larangan sepeda motor memakai premium. Alasannya, pesatnya pertumbuhan jumlah motor menjadi pemicu konsumsi BBM bersubsidi melonjak secara signifikan.

Akibatnya, ini mengancam kuota konsumsi BBM bersubsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2010, sebesar 36,5 juta kiloliter (KL). Jika pemerintah tidak membatasi, konsumsi BBM bisa membengkak menjadi 40,5 juta KL sepanjang 2010 yang berakibat pada meningkatnya defisit APBN.

Pada triwulan II tahun ini, pemerintah menargetkan bisa menetapkan putusan yang akan diambil.

Sesungguhnya soal beban subsidi bukan hanya dihadapi oleh Indonesia. Negara tetangga Malaysia juga menghadapi persoalan berat terkait beban subsidi BBM. Karena itu, Malaysia tengah memikirkan bagaimana cara mengurangi subsidi. "Bayangkan, Somalia yang negara miskin saja membayar BBM lebih mahal ketimbang Malaysia," ujar Menteri tanpa Portofolio, Datuk Seri Idris Jala seperti dikutip Bernama, 27 Mei 2010.

Dia mengungkapkan berdasarkan data dari Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), Malaysia tergolong negara dengan belanja subsidi mencapai 11 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2006-2009. Itu berarti tiga kali lipat ketimbang negara non-OECD seperti Phillipina dan 55 kali lipat dari negara OECD seperti Swiss.

"Subsidi ini telah menaikkan defisit anggaran dan beban utang pemerintah. Padahal, subsidi tidak tepat sasaran," kata dia.

Akibatnya, rasio utang Malaysia lebih tinggi ketimbang Indonesia yang mencapai 28 persen, bahkan mendekati Phillipina sebesar 62 persen. Malaysia berniat mengurangi subsidi minyak dan gas, namun akan mempertahankan subsidi pendidikan.

Namun, sebelum memutuskan bagaimana opsi yang akan ditempuh, pemerintah Malaysia menggelar jajak pendapat kepada rakyatnya. Lembaga pemerintah semacam Unit Pengelolaan Kinerja dan Delivery yang dipimpin Idris Jala menyebarkan questioner. Intinya berisi soal apakah setuju atau tidak dengan kebijakan pengurangan subsidi.

Jajak pendapat itu disebarkan di berbagai mal dan tempat-tempat publik, seperti di Kualalumpur. Misalnya saja di pusat perbelanjaan di Menara Petronas, tampak secara bergantian warga Malaysia mengisi questioner tersebut.

"Sudah ada ribuan orang yang mengisi jajak pendapat ini," Mohammad Noraina, seorang penjaga stan jajak pendapat tersebut saat ditemui VIVAnews di lokasi 25 Mei 2010.

Namun, kebanyakan dari warga Malaysia menolak subsidi dihapuskan. Noraina mengaku salah satu yang tidak setuju karena rakyat Malaysia masih membutuhkan. Begitupun dengan Aizuddin Zulkafli, seorang akuntan di perusahaan swasta. Ia juga tidak sepakat subsidi dipangkas. "Tunggu dulu, sampai banyak orang Malaysia sudah berkecukupan," ujarnya di sela mengisi questioner.

Merokok di Bundaran HI Ditukar Jeruk



VIVAnews - Apa reaksi anda jika rokok yang sedang anda hisap ditukar dengan jeruk. Ya, ini yang terjadi dalam peringatan Hari Tanpa Tembakau di yang diperingati sejumlah mahasiswa di Bundaran HI, Jakarta, Minggu 30 Mei 2010.

"Hari ini kami melakukan aksi sosial memperingati Hari Tanpa Tembakau tanggal 31 Mei besok, dengan menukarkan rokok dengan sebuah jeruk manis," ujar salah satu koordinator aksi Bhayu dari UI kepada VIVAnews.

Dalam aksinya, para mahasiswa sempat memergoki seorang pejalan kaki yang sedang menghisap rokoknya saat melintas di Bundaran HI. Seorang mahasiswi kemudian mendekati perokok itu. "Pak, untuk kesehatan dan memperingati hari tanpa tembakau besok, saya tukar dengan jeruk ya pak?" ujar mahasiswi itu.

Lalu bapak tersebut dengan malu menjawab, "Iya boleh deh."

Ini adalah percakapan antara Bhayu dengan seorang perokok yang tidak berkeberatan rokoknya ditukarkan dengan sebuah jeruk manis.

"Hari ini ada 30 kilogram jeruk yang siap kita tukarkan kepada masyarakat yang merokok yang melintas seputar bundaran HI," ujar Bhayu.

Saat memperingati Hari tanpa Tembakau sedunia pada 31 Mei besok, mahasiswa akan mengajukan beberapa tuntutan.

Dalam tuntutannya, mahasiswa juga meminta pertanggungjawaban pemerintah RI atas tidak diratifikasinya framework convention tobacco control (FCTC). Serta menuntut pemerintah menegakkan PP no 19 tahun 2003 Tentang pengamanan rokok bagi kesehatan.